Kita selalu ingat untuk berdoa, namun sering lupa untuk berusaha. Kita sering meminta sesuatu, tapi kita terlupa untuk mendapatkannya. Kita berpendapat semua hal yang kita inginkan dimuka bumi ini boleh diperolehi hanya dengan sekadar meminta. Padahal. Tidak. Oleh itu, tidak menghairankan jika begitu banyak hal yang kita inginkan, tetapi tidak juga kita dapatkannya. Kita sering berputus asa kerananya. Tapi, kita jarang  sedar, bahwa kita harus mengimbangi permintaan kita itu dengan usaha yang pantas. Yang boleh menjadi pemangkin agar keinginan kita itu termakbul.

Kepada Allah kita berdoa; “Allah, berikanlah kepadaku ini dan itu.” Tetapi, tindakan kita tidak menunjukkan bahwa kita bersungguh mendapatkannya. Padahal, jika kita tahu Allah itu maha adil, maka bererti bahawa Allah akan memperlakukan manusia sesuai dengan usaha masing-masing dalam kehidupannya. Tidak mungkin yang Maha adil memberi lebih banyak dan lebih berkat kepada orang-orang yang berusaha sedikit sahaja.

Didalam pekerjaan, kita mengajukan tuntutan:”Naikkan gajiku sepuluh peratus.” Tetapi, kualiti kerja kita tahun ini tidak ada bezanya dengan yang tahun lalu. Kita tidak menaikkan kecemerlangan kita tahun ini sebanyak 10% dari tahun lalu. Kesempatan yang kita miliki setiap hari tidak digunakan untuk melakukan tindakan produktif.

Adakah kita mungkin mirip manusia primitif. Berdoa kelangit diatas, lupa menggali ketanah dibawah. Kita sering angan-angan dan keinginan yang menjulang. Namun, jarang mengingati bahwa kaki kita berpijak di tanah dimana usaha dan kerja keras diperlukan. Mungkin, itulah sebabnya Ustaz saya dulu selalu berkata; “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka sendiri benar-benar melakukan perubahan yang diinginkannya”.

Dengan itu, Allah memberikan begitu banyak pilihan. Kita mahu menjadi orang baik, silakan. Kita mahu menjadi orang jahat juga silakan. Anda berhak memilih untuk berjaya, itu bagus. Anda lebih suka menjadi manusia gagal, tak ada halangan. Anda ingin menjadi pemenang? Selamat berjuang. Anda memilih menjadi kecundang? Siapa yang boleh melarang?

Ya, Allah, ternyata Dia memberikan manusia kesempatan untuk melakukan apa saja. Belok kiri, atau  belok kanan, berpatah balik atau terus lurus kehadapan. Bukankah itu yang kita sebut sebagai kemerdekaan?

Kemerdekaan yang tidak semata-mata diperingat pada tarikh 31 Ogos setiap tahun. Dengan upacara rutin di tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah tentang kemerdekaan individu yang sengaja diberikan Allah kepada setiap insan. Kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri. Kemerdekaan untuk mengeksplorasi potensi diri. Kemerdekaan untuk berlumba menjadi manusia terbaik. Kemerdekaan  untuk mengubah nasib diri sendiri.

Kemerdekaan untuk memilih hitam atau putih. Putih atau merah, Merah atau putih? Atau merah  dan putih. Merah dicampur putih menjadi merah. Merah itu darah yang mengalirkan tenaga kehidupan. Putih itu hati yang bersih. Memilih merah dan putih, berarti memilih untuk menjadi manusia yang dipenuhi oleh tenaga untuk kehidupan, dengan disertai hati yang bersih.

Dengan merah dan putih itu, kita berani memperkatakan diri sendiri sebagai manusia yang mampu memberi makna positif bagi kehidupan. Kerana, setiap tindak tanduk dalam hidup, selalu disusuli dengan hati yang putih bersih. Merah saja tanpa putih, hanya menjadikan kita manusia yang berdaya saing tinggi, tapi tidak punya nurani. Putih saja tanpa merah, hanya menjadikan kita manusia pasrah yang tidak menghasilkan pencapaian yang bermakna. Merah dan putih memang harus disatukan. Menjadi satu warna yang utuh. Lalu kita memeluknya erat. Hingga dia melebur dengan jiwa dan raga kita. Agar didalam dada kitalah. Sang merah putih itu. Berkibar.